kisah anak becak menjadi polwan
Metrotvnews.com, Yogyakarta: Anifta Nuraini tersenyum
bahagia di Mapolda Yogyakarta. Wanita kelahiran Yogyakarta 24 Agustus
1995 ini adalah satu dari ratusan siswa calon polisi yang lolos ujian
pendidikan Brigadir Polri. Kedua orangtuanya pun melepas Anifta
berangkat ke asrama pendidikan milik Polda Yogyakarta.
Perjuangan Anifta menjadi calon polisi wanita tidaklah mudah. Ia terlahir dari keluarga kurang mampu. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak. Sedangkan ibunya adalah tukang sayur keliling dipasar Sentul.
Namun hal ini tidak mematahkan semangat si bungsu dari enam bersaudara ini untuk bisa mewujudkan impiannya menjadi seorang polwan.
"Dari kecil saya bercita-cita menjadi polisi karena jiwa pemberani saya dan sifat saya yang haus tantangan. Walaupun saya terlahir menjadi gadis miskin. Tapi saya terlahir sebagai gadis pemberani," ujar Anifta di Polda DIY, Jumat (31/7/2015).
Untuk bisa lolos ujian calon Polwan, ia berlatih fisik,mental, dan pengetahuan akademiknya. Setelah itu, ia mengikuti tes.
"Saya rajin lari dan olahraga Taekwondo untuk persiapan fisik. Kebetulan saya sudah mengikuti Taekwondo dari kecil. Saya rajin baca tes psikologi. Lalu saya nabung dari hasil kerja partime saya untuk biaya akomodasi dan tes kesehatan Polri," jelasnya.
Walaupun pernah gagal dalam tes Polri tahun lalu, namun wanita berkerudung ini tidak patah semangat.
"Tahun lalu saya gagal di tes psikologi. Lalu saya beli buku psikologi. Saya belajar lagi. Tahun ini saya hampir gagal di tes kesehatan. dalam darah saya ada HBSAG. Tapi untungnya setelah cek ulang saya negatif HBSAG," tutur lulusan SMKN 5 Yogyakarta ini.
Iapun tak memperdulikan ejekan dari teman-temannya saat mendaftar sebagai Polwan."Pernah diejek sama teman yang daftar Polwan juga. Kata dia Anifta orang miskin daftar jadi polisi? Bisa apa sih dia? Tapi saya jadikan ejekan itu sebagai cambuk penyemangat untuk lulus ujian," ucap Anifta.
Sang ayah Tumiran (55) merasa bangga dengan keberhasilan anak bungsunya itu. "Saya cuma tukang becak yang buta huruf dan enggak lulus SD. Tapi saya berdoa sama Tuhan supaya anak saya berhasil semua. Saya bersyukur dan bangga akhirnya anak saya sukses," kata dia.
Selain Anifta, tiga anaknya yang lain juga berhasil lulus universitas. Satu orang meraih gelar sarjana di Universitas Sanata Dharma. Dua orang lainnya meraih gelar Diploma dari UNY dan UIN.
Anifta adalah satu dari 265 orang yang terpilih ikut pendidikan Brigadir. Dari jumlah itu 51 orangnya adalah calon polisi wanita. Sebelumnya, 1.789 orang yang mengikuti ujian seleksi penerimaan anggota Brigadir Polri Polda Yogyakarta tahun 2015.
RRN
sumber : http://jateng.metrotvnews.com/read/2015/07/31/417175/kisah-perjuangan-anak-tukang-becak-jadi-polwan
Perjuangan Anifta menjadi calon polisi wanita tidaklah mudah. Ia terlahir dari keluarga kurang mampu. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak. Sedangkan ibunya adalah tukang sayur keliling dipasar Sentul.
Namun hal ini tidak mematahkan semangat si bungsu dari enam bersaudara ini untuk bisa mewujudkan impiannya menjadi seorang polwan.
"Dari kecil saya bercita-cita menjadi polisi karena jiwa pemberani saya dan sifat saya yang haus tantangan. Walaupun saya terlahir menjadi gadis miskin. Tapi saya terlahir sebagai gadis pemberani," ujar Anifta di Polda DIY, Jumat (31/7/2015).
Untuk bisa lolos ujian calon Polwan, ia berlatih fisik,mental, dan pengetahuan akademiknya. Setelah itu, ia mengikuti tes.
"Saya rajin lari dan olahraga Taekwondo untuk persiapan fisik. Kebetulan saya sudah mengikuti Taekwondo dari kecil. Saya rajin baca tes psikologi. Lalu saya nabung dari hasil kerja partime saya untuk biaya akomodasi dan tes kesehatan Polri," jelasnya.
Walaupun pernah gagal dalam tes Polri tahun lalu, namun wanita berkerudung ini tidak patah semangat.
"Tahun lalu saya gagal di tes psikologi. Lalu saya beli buku psikologi. Saya belajar lagi. Tahun ini saya hampir gagal di tes kesehatan. dalam darah saya ada HBSAG. Tapi untungnya setelah cek ulang saya negatif HBSAG," tutur lulusan SMKN 5 Yogyakarta ini.
Iapun tak memperdulikan ejekan dari teman-temannya saat mendaftar sebagai Polwan."Pernah diejek sama teman yang daftar Polwan juga. Kata dia Anifta orang miskin daftar jadi polisi? Bisa apa sih dia? Tapi saya jadikan ejekan itu sebagai cambuk penyemangat untuk lulus ujian," ucap Anifta.
Sang ayah Tumiran (55) merasa bangga dengan keberhasilan anak bungsunya itu. "Saya cuma tukang becak yang buta huruf dan enggak lulus SD. Tapi saya berdoa sama Tuhan supaya anak saya berhasil semua. Saya bersyukur dan bangga akhirnya anak saya sukses," kata dia.
Selain Anifta, tiga anaknya yang lain juga berhasil lulus universitas. Satu orang meraih gelar sarjana di Universitas Sanata Dharma. Dua orang lainnya meraih gelar Diploma dari UNY dan UIN.
Anifta adalah satu dari 265 orang yang terpilih ikut pendidikan Brigadir. Dari jumlah itu 51 orangnya adalah calon polisi wanita. Sebelumnya, 1.789 orang yang mengikuti ujian seleksi penerimaan anggota Brigadir Polri Polda Yogyakarta tahun 2015.
RRN
sumber : http://jateng.metrotvnews.com/read/2015/07/31/417175/kisah-perjuangan-anak-tukang-becak-jadi-polwan

Komentar
Posting Komentar